PEMAHAMAN FILOSOFIS GURU KRISTEN DAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN HOLISTIK: STUDI KASUS SEKOLAH KRISTEN DI DEPOK
DOI:
https://doi.org/10.62207/04vx3766Keywords:
Christian worldview; integrasi iman dan ilmu; pembelajaran holistik; pemahaman filosofis guru; studi kasusAbstract
Penelitian ini menganalisis bagaimana pemahaman filosofis guru yang dalam tradisi pendidikan Kristen sering disebut Christian worldview dimanifestasikan dalam praktik pedagogi holistik di ruang kelas. Studi ini berangkat dari kegelisahan bahwa sekolah Kristen kerap hanya berbeda dari sekolah sekuler pada tataran simbolik (doa pagi, mata pelajaran agama) tanpa disertai transformasi cara pandang guru terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga terjadi dikotomi antara pengetahuan "sekuler" dan "sakral" (Blomberg, 1980, sebagaimana dikutip dalam Rifai, 2025; Holmes, 1987). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal, penelitian ini dilakukan di sebuah sekolah Kristen di Kota Depok, Jawa Barat, dengan lima informan guru yang dipilih secara purposive, satu kepala sekolah sebagai informan triangulasi, dan observasi kelas pada sepuluh sesi pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi kelas non-partisipan, dan studi dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), kemudian dianalisis dengan analisis tematik enam-fase (Braun & Clarke, 2006). Hasil penelitian ilustratif menunjukkan empat pola manifestasi: (1) internalisasi worldview Kristen membentuk lensa interpretatif guru terhadap materi ajar sejak tahap perencanaan, bukan sekadar tambahan di akhir sesi; (2) kedalaman pemahaman filosofis berkorelasi dengan kemampuan guru melakukan integrasi organik pada mata pelajaran yang secara konvensional dipandang netral seperti sains dan matematika; (3) keterbatasan waktu refleksi serta tekanan kurikulum nasional menjadi penghambat utama translasi filosofi ke praktik; dan (4) komunitas praktik antar guru berperan sebagai mediator yang memperkuat konsistensi integrasi lintas mata pelajaran. Temuan ini memperkuat argumen bahwa efektivitas pembelajaran holistik bukan semata fungsi dari metode pedagogis, melainkan bergantung pada kedalaman epistemologis guru dan dukungan struktural sekolah (Knight, 2006; Van Brummelen, 2009). Implikasinya, penguatan kapasitas filosofis-teologis guru yang dirancang secara berbeda untuk rumpun mata pelajaran eksakta dan humaniora perlu menjadi prioritas dalam pengembangan profesional berkelanjutan di sekolah Kristen.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Lilik Kusnadi (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/?ref=chooser-v1












